Adapun PMI Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus 2026, menandakan kembali ekspansinya aktivitas manufaktur.

Faisal memandang, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan menjaga permintaan domestik tetap kuat dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih tinggi.

Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah juga meningkatkan risiko kenaikan harga minyak global, yang berpotensi meningkatkan nilai impor minyak.

Sementara perkiraan puncak fenomena El Nino dapat meningkatkan kebutuhan impor pangan seiring upaya pemerintah meredam tekanan inflasi domestik. Secara keseluruhan, menurutnya, pertumbuhan impor diperkirakan tetap relatif kuat hingga sisa 2026.

Di sisi lain, jelas Faisal, pertumbuhan ekspor diperkirakan terus mengalami moderasi di tengah permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlanjut.