Melemahnya permintaan global terutama terkait dengan perlambatan ekonomi China yang terus berlangsung, mengingat China merupakan ekonomi terbesar kedua dunia sekaligus salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Ketegangan geopolitik juga dapat mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya angkutan dan asuransi serta memperpanjang waktu pengiriman, sehingga membebani kinerja ekspor.

Ketidakpastian perang dagang diperkirakan tidak hanya berlanjut dalam bentuk tarif yang lebih tinggi, tetapi juga mengarah pada fragmentasi perdagangan global yang lebih struktural, seiring negara-negara menjadi semakin berorientasi ke dalam negeri dan akses ke pasar ekspor baru menjadi semakin sulit.

Menurut Faisal, ketidakpastian tersebut dapat semakin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia.

β€œNamun, kenaikan harga energi global dapat memberikan dukungan melalui harga ekspor. Selain itu, meskipun perdagangan global semikonduktor dan chip terkait AI terus berkembang, keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut membuat manfaat langsung terhadap ekspor Indonesia kemungkinan tetap terbatas,” kata Faisal.