NADIKABAR.COM β Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2,49 persen dari PDB pada 2026 dibandingkan 0,09 persen dari PDB pada 2025.
Adapun cadangan devisa diperkirakan berada pada kisaran 143β147 miliar dolar AS pada akhir 2026, dari sebelumnya sebesar 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025.
βNeraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada 2026, seiring agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan mendorong permintaan impor yang lebih kuat, sementara permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlangsung membebani ekspor,β kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Faisal menambahkan bahwa kondisi tersebut berkontribusi terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan, sehingga memberikan tekanan terhadap posisi cadangan devisa.
Sebagai catatan, surplus perdagangan Indonesia melonjak dari 0,12 miliar dolar AS pada Juli 2026 menjadi 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Namun, secara kumulatif, surplus perdagangan Januari hingga Agustus 2026 menyusut tajam menjadi 7,25 miliar dolar AS, dari 29,35 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Tim ekonom PermataBank masih melihat risiko penurunan terhadap neraca perdagangan Indonesia pada sisa 2026, di tengah pertumbuhan impor yang tetap solid dan lingkungan ekspor yang menantang.
Adapun PMI Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus 2026, menandakan kembali ekspansinya aktivitas manufaktur.
Faisal memandang, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan diperkirakan menjaga permintaan domestik tetap kuat dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih tinggi.
Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah juga meningkatkan risiko kenaikan harga minyak global, yang berpotensi meningkatkan nilai impor minyak.
Sementara perkiraan puncak fenomena El Nino dapat meningkatkan kebutuhan impor pangan seiring upaya pemerintah meredam tekanan inflasi domestik. Secara keseluruhan, menurutnya, pertumbuhan impor diperkirakan tetap relatif kuat hingga sisa 2026.
Di sisi lain, jelas Faisal, pertumbuhan ekspor diperkirakan terus mengalami moderasi di tengah permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan yang masih berlanjut.
Melemahnya permintaan global terutama terkait dengan perlambatan ekonomi China yang terus berlangsung, mengingat China merupakan ekonomi terbesar kedua dunia sekaligus salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Ketegangan geopolitik juga dapat mengganggu jalur perdagangan global, meningkatkan biaya angkutan dan asuransi serta memperpanjang waktu pengiriman, sehingga membebani kinerja ekspor.
Ketidakpastian perang dagang diperkirakan tidak hanya berlanjut dalam bentuk tarif yang lebih tinggi, tetapi juga mengarah pada fragmentasi perdagangan global yang lebih struktural, seiring negara-negara menjadi semakin berorientasi ke dalam negeri dan akses ke pasar ekspor baru menjadi semakin sulit.
Menurut Faisal, ketidakpastian tersebut dapat semakin mengganggu rantai pasok global dan membebani ekspor Indonesia.
βNamun, kenaikan harga energi global dapat memberikan dukungan melalui harga ekspor. Selain itu, meskipun perdagangan global semikonduktor dan chip terkait AI terus berkembang, keterlibatan Indonesia yang masih terbatas dalam rantai pasok bernilai tinggi tersebut membuat manfaat langsung terhadap ekspor Indonesia kemungkinan tetap terbatas,β kata Faisal.