Menurut Faisal, tekanan inflasi ke depan juga berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan risiko kenaikan biaya bahan baku impor.
Di sisi lain, kenaikan harga energi global berpotensi semakin menambah tekanan inflasi sekaligus membatasi ruang fiskal pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi.
Bank Permata memperkirakan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 10 persen dapat menambah inflasi umum sekitar 0,73 poin persentase, yang terdiri atas dampak langsung sebesar 0,39 poin persentase dan dampak lanjutan sebesar 0,34 poin persentase.
Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi hingga akhir 2026, Faisal memperkirakan inflasi umum bakal mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir tahun, naik dibandingkan 2,92 persen pada akhir 2025.
Untuk tahun 2027, Faisal memperkirakan inflasi akan tetap berada di atas 3 persen hingga setidaknya semester I sebelum berangsur mereda pada semester II.
Secara keseluruhan, ia memproyeksikan inflasi mencapai sekitar 2,94 persen pada akhir 2027.