β€œNamun, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berlanjut sehingga mendorong kenaikan harga energi global dalam waktu lebih lama, dampak El Nino terhadap harga pangan yang lebih besar dari perkiraan, serta guncangan pasar portofolio yang berkaitan dengan MSCI dan memicu pelemahan rupiah lebih dalam, dapat mendorong inflasi melampaui proyeksi baseline kami,” ujar Faisal.

Adapun berdasarkan rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Oktober 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), melandai dibandingkan inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen (mtm).

Meski demikian, inflasi pangan masih menjadi kontributor utama inflasi bulanan, terutama akibat kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Penurunan harga emas turut menahan laju inflasi pada Oktober.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi umum tercatat sebesar 3,23 persen pada Oktober 2026, sedikit turun dibandingkan 3,28 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi inti melambat dari 2,84 persen menjadi 2,56 persen (yoy).

Secara kumulatif, inflasi Januari-Oktober 2026 mencapai 2,40 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,10 persen.