Menurut dia, tekanan di pasar keuangan mulai terlihat dari pelemahan rupiah hingga melampaui Rp18.000 per dolar AS, IHSG yang turun ke bawah level 5.000, meningkatnya biaya utang pemerintah, serta berlanjutnya arus keluar modal asing dari pasar saham.

β€œArtinya, kondisi yang dinilai stabil pada kuartal III belum tentu mencerminkan risiko yang sedang berkembang saat ini,” ujarnya.

Maka dari itu, ia mendorong pemerintah untuk memastikan kondisi stabilitas sistem keuangan mampu mendorong perbaikan ekonomi riil.

β€œJika konsumsi rumah tangga tetap lemah, kelas menengah terus tertekan, dan pertumbuhan hanya ditopang investasi padat modal, maka ekonomi bisa terlihat stabil dari atas tetapi semakin rapuh dari bawah,” katanya.