Edy melanjutkan pertumbuhan ekonomi secara makro belum dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi daya beli maupun kesejahteraan setiap kelompok masyarakat, terutama masyarakat berpendapatan rendah.
Untuk mengetahui apakah pertumbuhan ekonomi telah berdampak pada peningkatan pendapatan riil dan daya beli kelompok tersebut, kata Edy, diperlukan analisis yang lebih mendalam dengan menggunakan data yang lebih spesifik.
BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen (yoy) maupun triwulan III-2025 sebesar 5,04 (yoy).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam struktur PDB nasional dengan kontribusi sebesar 51,97 persen.
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 2,62 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.