"Pendapatan Usaha Semester I 2026 sebesar Rp664 M, tumbuh 22% dibandingkan Rp545 M pada SMT I 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh ketiga entitas, terutama PT MUJ Energi Indonesia yang tumbuh signifikan 41%, disusul PT Migas Hulu Jabar ONWJ 22%, sementara PT Energi Negeri Mandiri justru turun -12%," ujar Romli, Jumat (21/8/2026).

Menurut Romli, penurunan pendapatan ENM terjadi karena pendapatan perusahaan tersebut merupakan carry over dari proyek yang sudah berjalan.

Meski pendapatan meningkat, kenaikan tersebut belum sepenuhnya mendorong pertumbuhan laba kotor. Beban pokok pendapatan justru meningkat 24 persen, dari Rp492 miliar menjadi Rp611 miliar pada semester I 2026.

Kondisi itu membuat laba kotor MUJ masih berada di angka Rp53 miliar atau relatif tidak berubah dibandingkan semester I 2025. "Meski capaian terhadap RKA SMT I tetap tercapai 101%," kata Romli.

Perubahan yang lebih besar justru terjadi pada beban operasi. MUJ mampu menekan beban operasi sebesar 42 persen, dari Rp31 miliar menjadi Rp18 miliar. Penurunan tersebut terutama berasal dari beban administrasi umum yang turun 38 persen serta beban CSR yang turun hingga 100 persen.

"Efisiensi beban operasi inilah yang menjadi pendorong utama kenaikan Laba Usaha sebesar 61% secara YoY menjadi Rp34 M, dari 2025 sebesar Rp21 M," ujar Romli.