"Selain itu, bank juga menyalurkan Kredit PMI/PPLN untuk mendukung pekerja migran kita, dengan realisasi tahun berjalan mencapai Rp375 juta untuk 11 pekerja migran, juga dengan NPL 0 persen," imbuhnya.
Menurut Sudharma, pertumbuhan penyaluran kredit ini diimbangi dengan pengelolaan risiko yang hati-hati. Termasuk kerja sama penjaminan asuransi. Secara keseluruhan, rasio kredit bermasalah (NPL Gross) Bank BPD Bali tetap terjaga sehat di level 1,03 persen, dengan Loan at Risk (LaR) pada posisi 3,30 persen.
"Kedisiplinan dalam operasional turut menjaga profitabilitas perseroan," kata Sudharma.
Bank BPD Bali, dia berujar, membukukan laba sebesar Rp 945 miliar, tumbuh 8,14 persen (y-o-y). Kepercayaan nasabah untuk menyimpan dananya juga tecermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 36,31 triliun (tumbuh 4,00 persen y-o-y), didominasi oleh dana murah dengan rasio CASA 66,47 persen.
Sudharma menuturkan likuiditas bank juga sangat memadai untuk mengantisipasi dinamika ekonomi, dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 258,15 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) di level 143,72 persen. Melalui pelayanan yang hangat dan pendampingan yang berkelanjutan, dia melanjutkan, Bank BPD Bali optimistis dapat terus menjadi mitra bertumbuh bagi UMKM.
"Manajemen menegaskan bahwa Bank BPD Bali akan terus melangkah secara hati-hati (pruden), menjaga amanah nasabah, dan berupaya memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan ekonomi daerah," pungkasnya.