"Setiap tahun tertunda menggerus sekitar 10 persen nilai kini penerimaan negara dari proyek ini. Penundaan 4 tahun menghapus sepertiganya. Dukungan gubernur penting, terutama untuk urusan dalam kewenangan daerah," ucapnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak kecil. Selain peluang sukses geologi di wilayah perbatasan laut dalam yang diperkirakan sekitar 20 persen, faktor keekonomian dan kepastian harga jual gas domestik menjadi kunci utama agar proyek ini dapat berlanjut hingga tahap keputusan investasi akhir (FID).
Jika temuan gas raksasa di perairan Bali benar-benar terwujud, dampaknya diyakini tidak hanya memperkuat pendapatan daerah melalui dana bagi hasil (DBH), tetapi juga menjadi solusi mandiri pasokan listrik Pulau Dewata di masa transisi energi.
"Kini Bali masih bergantung pada kabel dari Jawa sekitar 270-340 MW," kata Yayan.