NADIKABAR.COM — Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk mengoptimalkan nilai ekspor hingga sekitar US$ 5 miliar per tahun. Potensi tersebut teridentifikasi dari analisis terhadap ribuan transaksi ekspor yang mencakup berbagai komoditas, pelabuhan, hingga negara tujuan.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan visibilitas perdagangan semakin penting di tengah tekanan terhadap kinerja ekspor dan meningkatnya ketidakpastian global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Juni 2026, neraca perdagangan kembali mencatat defisit sebesar US$ 450 juta.
Menurut Eddy, kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi ekspor Indonesia.
"Pada kuartal yang baru dirilis, neraca perdagangan kita bahkan sudah tidak surplus lagi. Artinya, perlu ada refleksi dan koreksi mengenai strategi ekspor di tengah kondisi ketidakpastian global," ujar Eddy, Rabu (2/9/2026).
Dalam situasi tersebut, integrasi data perdagangan dinilai dapat membantu pemerintah melihat aktivitas ekspor hingga tingkat transaksi. Informasi yang terhubung tidak hanya mencakup nilai dan volume, tetapi juga kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan, hingga penerimaan devisa.
"Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya," kata Eddy.