Sarmuji menilai perempuan memegang peran sentral dalam menjaga tradisi menenun. Aktivitas menenun juga turut menggerakkan perekonomian keluarga dan daerah.
"Ulos bukan sekadar kain atau produk budaya, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas, tradisi, dan penghidupan masyarakat Batak, karena di setiap lembar ulos tersimpan ketekunan, keterampilan, serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun," kata Sarmuji.
Ulos kini telah diolah menjadi beragam produk, seperti busana siap pakai (ready-to-wear), aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata. Perkembangan ini menunjukkan ulos tidak hanya digunakan masyarakat Batak, tetapi juga dapat diterima secara nasional, bahkan berpeluang menembus pasar ekspor.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengakui industri tenun tradisional masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, inovasi desain, dan peningkatan kualitas produk.