NADIKABAR.COM — Oktober 2026 menghadirkan peringatan serius bagi Indonesia. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño akan berintensitas sangat kuat dan awal musim hujan 2026/2027 mundur, di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kekeringan turut memperparah kebakaran hutan dan lahan. Reuters melaporkan bahwa data satelit Nusantara Atlas menunjukkan luas kumulatif lahan terbakar mencapai 1,92 juta hektare hingga akhir September 2026.
Pada bulan September 2026, Dewan Ekonomi Nasional juga melaporkan bahwa inflasi pangan bergejolak dan meningkat menjadi 5,03 persen secara tahunan. Pada 20 Oktober, mahasiswa dan masyarakat sipil berdemonstrasi di Jakarta dan daerah lain.
Mereka menyoroti kebakaran hutan, pelemahan rupiah, dan penurunan pasar saham. Kejadian-kejadian itu bukan bukti bahwa El Niño pasti menyebabkan ketidakstabilan politik. Namun, itu mengingatkan bahwa di antara risiko iklim, pangan, ekonomi, dan kepercayaan publik mungkin saling terkait; sehingga perlu diantisipasi secara terpadu. Belajar dari sejarah juga perlu.
Menjelang krisis politik 1965, Indonesia menghadapi inflasi tinggi, kelangkaan pangan, dan kesulitan ekonomi. Penelitian mengenai kekeringan di Jawa selama 1960-1965 menunjukkan keterkaitan dengan anomali El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (Syahidah, Suwarman, dan Brawijaya, 2026). Namun, konflik ideologi, persaingan kekuasaan, dan dinamika militer merupakan faktor fundamental dalam krisis politik tersebut. El Niño tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal.
Peristiwa Malari, 15 Januari 1974, memberikan pelajaran berbeda. Demonstrasi mahasiswa menyoroti korupsi, ketimpangan, harga-harga, dan dominasi modal asing. Catatan historis ENSO dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa 1974 Indonesia berada dalam periode La Niña, bukan El Niño. Malari bukan bukti bahwa El Niño memicu gejolak politik, melainkan pembanding yang menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan ketidakpuasan sosial dapat berkembang menjadi krisis politik melalui mekanisme yang berbeda.