Hubungan antara gangguan iklim dan pangan terlihat lebih jelas pada 1997-1998. Kekeringan El Niño menekan produksi pertanian ketika krisis finansial Asia melemahkan rupiah, meningkatkan harga, dan memerosotkan daya beli. Produksi padi Indonesia pada 1998 diperkirakan hanya 45,3 juta ton, terendah sejak 1991 (FAO, 1998). Tekanan pangan memperburuk kesulitan masyarakat menjelang pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Namun, krisis finansial, korupsi, dan tuntutan reformasi juga merupakan faktor utama.
Indonesia tidak harus menunggu krisis berikutnya. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat membantu pemerintah: dari penanganan setelah krisis menuju antisipasi sebelum dampaknya meluas.
Fondasi awal telah tersedia. Pada Agustus 2025, BMKG mengumumkan pemanfaatan AI untuk meningkatkan ketepatan prediksi hujan. Langkah berikutnya ialah menghubungkan prediksi iklim dengan kebijakan pangan dan ekonomi.
Pertama, AI dapat menghubungkan prakiraan cuaca, citra satelit, kelembapan tanah, kalender tanam, dan produktivitas untuk memperkirakan risiko gagal panen. Informasi ini membantu petani dan pemerintah menyesuaikan waktu tanam, mengatur irigasi, dan memilih varietas yang sesuai.
Kedua, integrasi data produksi, harga, stok, dan distribusi dapat mendeteksi wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan pasokan atau lonjakan harga. Pemerintah dapat lebih dini menyiapkan cadangan pangan, memperlancar distribusi antardaerah, dan merencanakan impor secara terukur.
Ketiga, analisis AI atas harga pangan dan indikator sosial ekonomi dapat membantu mengidentifikasi rumah tangga yang rentan. Hasilnya menjadi dasar untuk mempercepat bantuan sosial, menyediakan pangan terjangkau, dan melindungi kecukupan gizi masyarakat.