Denna menjelaskan bahwa suhu udara yang meningkat akibat El Nino mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Cuaca panas membuat masa inkubasi telur nyamuk menjadi jauh lebih singkat dari biasanya. Nyamuk betina dalam sekali bertelur mampu menghasilkan 300 ribu butir telur yang memiliki daya tahan hingga enam bulan di tempat kering. Telur-telur ini akan langsung menetas begitu terkena sedikit genangan air, termasuk di sela-sela paving block saat terjadi hujan sesaat.

"Ada peningkatan suhu di Kota Sukabumi akibat cuaca yang makin panas. Semakin tinggi suhunya, penetasan telur nyamuk menjadi jauh lebih cepat seperti telur ayam. Jika kondisi normal butuh waktu 6 sampai 12 hari, di suhu panas El Nino saat ini hanya butuh waktu 5 hari atau seminggu untuk menetas," jelas Dena.

Menyikapi situasi ini, Dinkes meminta warga tidak salah kaprah mengenai penggunaan fogging atau pengasapan. Denna menegaskan bahwa fogging adalah langkah terakhir (terminal phase) yang dilakukan hanya jika ditemukan kasus aktif berdasarkan Penyelidikan Epidemiologi (PE) Puskesmas, bukan sebagai tindakan pencegahan rutin.

"Masyarakat sering terkecoh iklan, menganggap fogging itu pencegahan (preventif). Padahal bukan. Fogging memakai bahan kimia tinggi yang tidak boleh asal semprot. Harus ada izin dan rekomendasi Dinkes karena bisa mencemari lingkungan serta berbahaya bagi manusia," tegasnya.