Nandar memaparkan ada puluhan petani hutan yang ikut terlibat dalam pembuatan embung tersebut. Lokasinya yang berada di perbukitan dengan kontur jalan yang terjal membuat proses pembuatan embung tidak mudah. Untuk sampai ke lokasi, para petani tersebut diangkut dengan menggunakan mobil trail.

Sesampainya di lokasi, mereka akan membangun saluran pipa sepanjang 5 kilometer untuk mengalirkan air dari mata air Cipujangga yang berada di ketinggian 1.400 mdpl menuju embung yang ada di ketinggian 1.000 mdpl. Embung yang dibuat dengan menggunakan terpal dengan luas 6×4 tersebut memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter dengan kedalaman mencapai 1 meter.

Selain itu, pihaknya juga menempatkan toren air dengan kapasitas mencapai 1.000 liter air yang bertujuan agar air dapat dialirkan lebih mudah. Menurutnya, pembangunan embung tersebut dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh para petani sekitar hutan.

"Sumbernya dari Cipujangga yang ketinggian 1.400 mdpl. Kita tarik dari sana dengan jarak sekitar 4 kilo sampai 5 kilo. Ini hampir 20 orang lebih yang terlibat. Petaninya itu ada sekitar 15 orang, sama Paguyuban ada 8 orang. Kita berpartisipasi dengan gotong royong. Alhamdulillah ini juga atas inisiatif petani untuk jaga gunung Ciremai dan sudah koordinasi dengan TNGC juga," tutur Nandar.

Keberadaan embung di ketinggian gunung ini memegang peranan vital. Menurutnya, saat karhutla terjadi, embung tersebut menjadi benteng utama agar kebakaran tidak meluas dan lebih mudah diatasi. Selain itu, embung juga dapat berfungsi untuk menjaga keberlangsungan tanaman hasil reboisasi dan persemaian bibit di musim hujan maupun kemarau.