Emil menilai kesamaan pandangan tersebut menjadi modal penting untuk membawa Demokrat Jatim menghadapi periode organisasi berikutnya. Ia menyebut para kader menginginkan adanya peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.

"Ekspektasi bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini, bahkan hari kemarin juga," ucapnya.

Jika kembali dipercaya memimpin Demokrat Jatim, Emil mengatakan salah satu fokusnya adalah memperkuat struktur partai hingga tingkat paling bawah. Menurutnya, strategi politik tidak bisa diseragamkan untuk seluruh daerah karena setiap kabupaten/kota memiliki karakter dan persoalan yang berbeda.

"Kita ingin memperkuat struktur kita sampai ke akar rumput, dalam hal ini anak ranting. Setiap daerah punya kekhususannya masing-masing. Saya tidak bisa menyamakan Bojonegoro dengan Bondowoso," jelasnya.

Ia mencontohkan persoalan yang dihadapi masyarakat di masing-masing daerah berbeda. Karena itu, program DPD Demokrat Jatim ke depan menurutnya harus lebih banyak melibatkan DPC sebagai penggerak utama di wilayah masing-masing. "Program DPD pun DPC lead di depan," tegas Emil.

Emil yang juga Wakil Gubernur Jatim ini juga menekankan agar kader Demokrat tidak hanya hadir ketika momentum Pemilu semakin dekat. Menurut dia, keberadaan partai harus dirasakan masyarakat dalam kondisi sehari-hari.

Ia mencontohkan sejumlah kader Demokrat yang turun membantu masyarakat menghadapi persoalan pengobatan hingga kekeringan. "Jangan pas lagi nyari suara saja. Justru hari inilah kita ini harus betul-betul hadir di tengah masyarakat," katanya.

Persoalan kekeringan, lanjut Emil, menjadi salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian kader Demokrat di Jatim. Kader didorong tidak hanya menjalankan fungsi politik, tetapi juga menjadi penghubung masyarakat dengan program pemerintah. "Sudah banyak program pemerintah, tapi kadang masyarakat bingung mengakses. Itulah fungsi kader-kader partai," ujarnya.