Sementara itu, Wakasek Kurikulum SRT 1 Kabupaten Bogor, Haris menyampaikan pihaknya tidak hanya berfokus dalam melatih kemampuan vokasi para siswa, tetapi juga mengajarkan proses mulai dari hulu hingga ke hilir.

Hal tersebut dilakukan agar kelak setelah mereka lulus sekolah, mereka mampu mengangkat derajat keluarga.

Program pemberdayaan di SRT 1 Kabupaten Bogor mencakup Lelepreuner, yakni pelatihan pengelolaan budi daya ikan lele. Selain itu, siswa juga mendapat pembelajaran di bidang kesenian, seperti memainkan dan membuat angklung melalui kerja sama dengan sanggar seni lokal.

"Dari mulai penyiapan bahan baku hingga pengemasan produk jadinya dan kemudian bagaimana mereka memasarkan itu. Karena kalau berbicara pendidikan yang dinilai itu bukan instan, satu tahun, dua tahun, tapi jangka panjangnya, proses yang kita nilai," katanya.

"Sehingga kita beri siswa itu waktu untuk proses bahwa ketika kalian lulus, ya kalian harus bisa berdaya, kalian harus bisa graduasi menjadi ujung tombak pemutus mata rantai kemiskinan keluarga. Karena yang disiapkan bukan hanya akademik, vokasinya juga disiapkan, dan itu semua dikembangkan di sekolah rakyat," lanjutnya.

Wakasek Kesiswaan SRMA 14 Bandung Barat, Dimas Mulyana, menjelaskan pihak sekolah memiliki 15 kegiatan ekstrakurikuler untuk memfasilitasi, memberi ruang bagi para siswa sesuai minat dan bakat nonakademik mereka masing-masing. Mulai dari olahraga, kesenian, keagamaan, hingga organisasi.

"Sehingga, melalui minat dan bakat ini, alhamdulillah, kepercayaan diri anak-anak meningkat melalui minat dan bakat karena kan sering action gitu. Jadi, alhamdulillah, prestasi meningkat, kepercayaan diri meningkat. Akhirnya yang tadi, pemberdayaan itu, yang akan kita (dorong), anak berani jadi juara satu di tingkat provinsi, di tingkat nasional," jelasnya.

Kemudian, Wali Asrama SRT 1 Kabupaten Kediri, Moh Nursalim, menyebut pihak sekolah juga fokus pada pendampingan bagi siswa-siswi. Mereka didorong untuk lebih aktif dan berprestasi, baik dalam hal akademik maupun non-akademik.

"Jadi slogan di kita, tidak ada anak tanpa kegiatan, tidak ada anak tanpa pendampingan," ujarnya.

Ia berharap program tersebut dapat membuka peluang masa depan bagi siswa setelah lulus.

"Nanti harapannya, ketika lulus, mereka tidak menganggur. Dan itu terbukti, sekarang, di (sekolah) kita sudah ada anak kelas 2 (SMA) yang mereka punya golden ticket ke kuliah, padahal masih kelas 2," pungkasnya.