"Dengan penanda ilmu astronomi, informasi dari BMKG, dan early warning system, kita perlu berhati-hati. Kita harus paham mekanisme keselamatan dan pengamanan dininya jika terjadi semburan atau erupsi," katanya.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana diminta tidak mengabaikan informasi resmi. Peringatan dari lembaga terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pos Pengamatan Gunung Api, perlu menjadi rujukan dalam menentukan langkah keselamatan.
Pesan MUI tersebut sekaligus menegaskan pentingnya memahami konsep tawakal secara tepat.
Dalam ajaran Islam, berserah diri kepada Allah SWT tidak berarti menghilangkan kewajiban manusia untuk berusaha. Seseorang tetap diperintahkan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Dalam menghadapi bencana, bentuk ikhtiar tersebut dapat berupa mengikuti informasi kebencanaan, menjauhi kawasan berbahaya, memahami jalur evakuasi, menyiapkan kebutuhan darurat, hingga menaati instruksi petugas.
Dengan demikian, mengikuti sistem peringatan dini bukan bertentangan dengan sikap tawakal. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari usaha manusia menjaga amanah berupa keselamatan diri dan orang lain.
Prof Ni'am juga mengingatkan bahwa persoalan bencana bukan hanya berkaitan dengan keselamatan masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Bagi masyarakat yang berada di daerah aman, musibah yang dialami orang lain merupakan momentum untuk menguji kepedulian dan solidaritas sosial.