Hingga September 2026, Indonesia memproduksi 23,43 juta ton bijih bauksit; 57,24 kiloton (kt) bijih timah; 34,6 kt refined tin (hasil pemurnian bijih timah); 114,9 juta ton bijih tembaga; 1,47 juta ton konsentrat tembaga dan 257 kt katoda; 225,3 juta ton bijih nikel; 419,08 kt feronikel; serta 60,81 kt nikel matte.

Adapun produksi nikel Indonesia terkonsentrasi di Maluku Utara, yakni sebesar 38 persen; Sulawesi Tenggara sebesar 36 persen; dan Sulawesi Tengah sebesar 21 persen.

β€œNamun, volume produksi saja tidak menjamin daya saing. Kita juga harus mengatasi sejumlah tantangan operasional dan struktural, seperti cuaca ekstrem, gangguan pelayaran, serta logistik antarpulau yang memengaruhi ketepatan waktu,” kata Yan.