Menurut Rosan, peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.

Nilai tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp29,4 triliun, diikuti tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional, yang mencapai Rp511,8 triliun.