NADIKABAR.COM — Kontingen Indonesia melampaui target medali di Asian Para Games 2026. Meski demikian, Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia, Reda Manthovani, menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dievaluasi, terutama durasi pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Reda menilai persiapan fisik menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah atlet gagal meraih medali atau hanya membawa pulang perunggu. Menurutnya, masa pelatnas yang hanya berlangsung tiga bulan perlu menjadi perhatian untuk menghadapi kompetisi berikutnya.

"Saya melihat beberapa atlet yang belum mendapatkan medali, ataupun yang baru hanya perunggu, itu kalah lebih banyak karena fisik. Kalau teknik, strategi, mereka sudah bagus-bagus, tetapi kalah di fisik. Karena pelatnasnya cuma tiga bulan," ujar Reda dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (27/10/2026).

Indonesia menutup Asian Para Games 2026 dengan raihan 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kedelapan klasemen akhir.

Reda mengakui target yang ditetapkan sebelum pertandingan berhasil dilampaui. Namun, ia menegaskan prestasi atlet tidak bisa hanya diukur berdasarkan perhitungan di atas kertas.

"Kalau dihitung di atas kertas, target kita kan hanya 7 emas, 8 perak, 17 perunggu, berdasarkan catatan. Tetapi saya selalu bilang, prestasi itu ditentukan di medan pertandingan, tidak di atas kertas. Karena di dalam pertandingan itu diperlukan stamina, strategi, dan mental juara," tegasnya.

Sebanyak sembilan cabang olahraga menyumbangkan medali untuk Indonesia di Asian Para Games 2026. Boccia menjadi cabang paling efektif dengan empat emas dari total empat medali yang diraih. Sementara itu, para atletik menjadi penyumbang medali terbanyak dengan koleksi 22 medali, terdiri dari tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu.

Para bulu tangkis menyumbang tiga emas, tiga perak, dan enam perunggu. Para renang menambah tiga emas, empat perak, dan dua perunggu.

Dari cabang lainnya, para balap sepeda meraih satu emas dan empat perunggu, sedangkan para tenis meja menyumbang satu emas dan enam perunggu. Para angkat berat membawa pulang dua perak dan lima perunggu.

Para panahan meraih tiga perak dan satu perunggu, melampaui target dua medali perak. Adapun para judo menyumbang satu perak dan dua perunggu.

Untuk meningkatkan prestasi pada ajang berikutnya, Reda berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dapat mendukung pelatnas dengan durasi yang lebih panjang. "Mudah-mudahan pemerintah, Kemenpora dalam hal ini, lebih bisa mendukung, supaya ada perpanjangan pelatnas," katanya.

Reda juga berharap para atlet mendapat waktu istirahat secukupnya setelah Asian Para Games, sebelum kembali menjalani persiapan menuju kompetisi berikutnya. "Setelah pertandingan (Asian Para Games) ini, ya dikasih istirahat sekadar, tapi saya harapkan bisa balik lagi, kalau memang Kemenpora bisa mendukung pelatnas ini."

"Karena di tahun depan sudah ada ASEAN Para Games 2027, dan di tahun 2028 ada Paralimpiade. Kalau kita enggak langsung Pelatnas, mereka lepas, akhirnya bisa makan sembarangan," jelasnya.

ASEAN Para Games 2027 di Malaysia dan Paralimpiade Los Angeles 2028 menjadi dua agenda besar yang sudah menanti kontingen Indonesia. Reda menilai kesinambungan program latihan perlu dijaga agar kondisi fisik dan performa atlet tetap terpelihara.

Selain dukungan pemerintah, Reda mengajak dunia usaha ikut berperan dalam pembinaan atlet disabilitas melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

"Kalau memang belum ada kesempatan dari Kemenpora, nanti kita harapkan para pengusaha yang punya CSR untuk membantu terciptanya atlet-atlet disabilitas yang berprestasi," ujarnya.