"Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa nilai investasi yang masuk, tetapi seberapa besar investasi tersebut membuat Jakarta semakin nyaman, terkoneksi, produktif, dan layak huni bagi warganya," ungkapnya.

Kedua, memperluas sumber pembiayaan pembangunan Jakarta. Menurut Fahira, kebutuhan pembangunan kota sebesar Jakarta tidak mungkin hanya mengandalkan APBD. Kemitraan dengan investor melalui skema yang sehat dan akuntabel memungkinkan pembangunan strategis dipercepat, sementara kapasitas fiskal daerah dapat tetap diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan layanan dasar lainnya.

Namun, kemitraan investasi harus dibangun dengan tata kelola yang transparan, pembagian risiko yang proporsional, kepastian hukum, serta manfaat publik yang jelas.

Ketiga, menciptakan pusat pertumbuhan baru dan efek berganda bagi ekonomi warga. Fahira menilai 37 proyek yang tersebar di berbagai kawasan berpotensi menggerakkan sektor konstruksi, jasa, perdagangan, pariwisata, logistik, ekonomi kreatif, dan berbagai rantai pasok lainnya. Karena itu, dirinya mendorong agar realisasi investasi juga membuka ruang luas bagi tenaga kerja lokal, UMKM, koperasi, pelaku ekonomi kreatif, dan pemasok lokal..

Keempat, mempercepat pengembangan kota berbasis transportasi dan konektivitas. Menurut Fahira, cukup banyak proyek dalam portofolio JIF yang terhubung dengan TOD, transportasi massal, serta kawasan mixed-use.

Fahira menyebut pendekatan tersebut penting karena masa depan Jakarta akan bergerak menuju kota yang lebih kompak, terhubung, dan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Pengembangan hunian, tempat kerja, pusat perdagangan, ruang publik, dan layanan kota di sekitar simpul transportasi dinilai akan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat nilai ekonomi kawasan.