NADIKABAR.COM — Petaka keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus berlanjut. Kali ini menimpa puluhan siswa dan guru SMA Negeri (SMAN) 3 Nganjuk, Rabu (2/9/. AKibatnya, mereka terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit mendapat perawatan.
1. Korban dilarikan ke RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara
Pantauan NadiKabar di RSUD Nganjuk, sejumlah korban tampak masih berseragam sekolah menjalani penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), sekitar pukul 15.30 WB.
"Benar informasi itu (siswa SMAN 3 diduga keracunan menu MBG). Untuk jumlahnya masih kami verifikasi," ungkap Kasatgas MBG Kabupaten Nganjuk, Judy Hernanto kepada NadiKabar.
Informasi yang dihimpun NadiKabar, siswa yang diduga keracunan dilarikan ke RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara. Jumlahnya diperkirakan 30 orang.
"Yang masuk ke sini 17 siswa bapak," jawab salah satu petugas RSUD Nganjuk saat ditanya Judy.
2. Selain siswa, seorang guru juga keracunan
Kabag Prokopim Pemkab Nganjuk, Syamsudin menyebut bahwa jumlah korban yang tercatat hingga saat ini ada 49 orang. Salah satunya adalah guru perempuan.
"Untuk yang di Puskesmas Begadung ada 20, di RSUD 17 dan di RS Bhayangkara 12. Sementara jumlahnya 49 orang," ungkap Syamsudin.
Salah guru SMAN 3 Nganjuk, Andi Joko Santoso membeberkan keracunan berawal saat menu MBG tiba di sekolah pada pukul 10.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian, para siswa mengalami gejala keracunan.
"Kemudian kami persilahkan anak-anak untuk ngambil. Anak-anak kemudian ambil dan makan. Kemudian jam dua (14.00 WIB) lebih, kok ada yang mual, ada yang pusing, ada yang muntah," ungkap Andik, salah guru SMAN 3 Nganjuk.
Para siswa yang mengalami gejala keracunan tersebut kemudian dilarikan ke Puskesmas Begadung, RSUD Nganjuk dan RS Bhayangkara untuk mendapatkan pertolongan pertama.
4. Menu MBG yang dikonsumsi nasi goreng
Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo yang mengetahui keracunan langsung menjenguk ke rumah sakit. Ia membeberkan para siswa keracunan usai menyantap menu nasi goreng yang terdapat ayam suwir dan tahu bulat.
"Untuk menunya nasi goreng. Tadi mereka bercerita asalnya tidak merasakan apa-apa saat makan. Setelah jeda dua jam baru merasakan mual," kata Trihandy.
Trihandy menambahkan saat ini observasi dan verifikasi data para korban terus dilakukan. Begitu pula dengan pelayanan di rumah sakit.
"Saat ini masih observasi. Semuanya kami maksimalkan, mulai dokter spesialis, dokter, perawat. Kami terus mendampingi untuk memberikan pelayanan terbaik. Kita doakan semoga semuanya segera pulih dan pulang ke rumah," ujar pria yang karib disapa Handy itu.
Menurut Handy, dari informasi yang diterimanya, seluruh korban adalah siswa SMAN 3 Nganjuk. Di tim redaksi 49 orang yang terdata, ada satu guru perempuan.
"Data (jumlah korban) masih belum fixed. Ada satu ibu guru, sisanya murid," ungkapnya.
Untuk memastikan para siswa yang keracunan mendapatkan pelayanan terbaik, Mas Handy memastikan membuka semua pusat pelayanan kesehatan, mulai RSUD, RS Bhayangkara, RSI maupun puskesmas terdekat.
5. Keluarga siswa murka ke kepala SPPG
Keracunan ini rupanya juga membuat keluarga salah satu siswa murka ke kepala SPPG. Momen itu berlangsung di halaman rumah sakit. Keluarga korban tampak melampiaskan kemarahannya.
"Kae lo, ponakanku iku. Keracunan! Menune opo, nasi goreng to?" Tanya pria berkaus hitam keluarga korban keracunan MBG kepada 2 orang pemuda di halaman RSUD Nganjuk.
Pria itu berbicara kepada kedua pemuda itu dengan nada tinggi, beberapa kali menunjuk-nunjuk, dan sesekali mengumpat. Sementara kedua pemuda itu tampak terdiam dan sesekali menjawab tapi tidak terlalu jelas karena wajahnya tertutup masker.
Salah satu dari dua pemuda yang didamprat itu diketahui merupakan Kepala SPPG yang bernama Zaidan. Kepala SPPG itu hanya terdiam tidak menjawab apa pun pertanyaan dari pria berkaus hitam itu.
"Nanti ada statement resminya pak," jawab teman Zaidan.
Pria tersebut tidak terima dengan jawaban itu. Dia kemudian menyebut menu nasi goreng yang katanya dilarang oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Ditemui NadiKabar di RSUD Nganjuk, Zaidan juga memilih bungkam. Dia tidak bersedia diwawancarai terkait kejadian tersebut. Dia hanya menyampaikan bahwa dialah kepala SPPG Begadung.
"Mohon maaf. Jangan Pak," ucapnya singkat.