NADIKABAR.COM — Kisah cinta Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh, diangkat ke layar lebar melalui film Baby Udon. Menyaksikan perjalanan hidupnya bersama sang suami divisualisasikan dalam film membuat Fanny tak kuasa menahan air mata.

Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Fanny mengaku berharap film Baby Udon tidak hanya menjadi tontonan tentang kisah cinta, tetapi juga memberikan pesan mengenai arti menghargai setiap nikmat yang dimiliki dalam kehidupan.

Ia ingin penonton menyadari bahwa pasangan, anak, kesehatan, rezeki, hingga keturunan merupakan titipan yang suatu saat dapat diambil kembali.

"Sebelumnya aku berharap kalian menonton ini dan ketika kalian pulang, kita semua itu sadar bahwa Allah itu selalu memberikan nikmat titipan. Titipan tentang suami, titipan anak, rezeki, nikmat keturunan, nikmat kesehatan," kata Fanny saat hadir dalam Gala Premiere Baby Udon yang digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta Selatan, kemarin.

Menurut Fanny, manusia kerap lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Ketika kehilangan datang, seseorang bisa merasa begitu sulit untuk melepaskan sesuatu yang sudah terlalu melekat dalam kehidupan.

"Tapi kadang kita lupa. Ketika nikmat itu diambil, kita sudah terlalu melekat dan kita kesusahan melepaskan kemelekatan itu. So that's why, time is precious," tuturnya.

Fanny juga mengingatkan tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kehilangan akan datang.

"Kita nggak pernah tahu kapan suami kita akan pergi, kapan anak kita akan kembali, kesehatan kita diambil, ataupun rezeki kita hilang. Makanya, semoga film ini bisa memberikan kita makna bahwa apa yang kita punya itu benar-benar berharga banget," ungkapnya.

Dari berbagai adegan dalam Baby Udon, ada satu momen yang paling membuat Fanny merasa kembali ke masa ketika merawat Hajime. Adegan tersebut adalah ketika karakter Hajime mengalami kondisi hingga mengompol dan pipis darah di kasur. Ia mengaku kejadian tersebut memiliki kemiripan dengan pengalaman yang pernah dilalui bersama sang suami ketika Hajime sakit.

"Ketika ini sih, suami aku ngompol. Itu aku, jadi waktu itu kita syuting di Bogor. Syuting di Bogor, itu ada adegan Hajime ngompol pipis darah di kasur," beber Fanny.

Menurut Fanny, adegan tersebut menggambarkan kondisi emosional Hajime yang merasa sangat hancur. Ia menilai pengalaman itu begitu berat bagi seorang laki-laki yang selama ini terbiasa menganggap dirinya harus kuat dan mampu memberikan rasa aman kepada keluarga.

"Di situ Hajime itu terlihat sangat-sangat hancur karena selama ini laki-laki kan selalu menaruh kebanggaannya kepada dirinya adalah di pekerjaannya dan ketangguhan," jelasnya.

"Sebagai laki-laki harusnya dia bisa memberikan security, security of feeling, security of financial, security of emotional, protective and everything," sambung Fanny.

Namun, ketika kondisi fisiknya semakin menurun, Hajime justru merasa telah merepotkan istrinya. Bahkan, ia merasa tidak lagi mampu memberikan rasa aman seperti sebelumnya.

"Tapi pada saat itu dia merasa gagal memberikan itu semua ke istrinya, karena dia sudah ngerepotin banget nih. Sudah mulai ngompol," katanya.