Inovasi itu mencakup layanan konsultasi pertanian digital, sistem peringatan dini, sensor nutrisi, serta irigasi presisi untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.

FAO juga menekankan pembiayaan inklusif bagi petani kecil serta teknologi pengolahan untuk mengurangi kehilangan dan sisa pangan, menciptakan nilai tambah, dan mendukung ekonomi sirkular.

Pendekatan tersebut diharapkan membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan pendapatan produsen pangan.

Pengetahuan masyarakat lokal dan masyarakat adat juga dapat dipadukan dengan teknologi modern untuk membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim dan tantangan lingkungan.

Di samping peningkatan produksi, Rajendra mengingatkan pentingnya pola makan yang cukup, beragam, seimbang, dan aman untuk mengatasi berbagai bentuk malnutrisi, termasuk anemia, stunting, obesitas, dan diabetes.

"Pola makan yang mencegah rasa lapar belum tentu mencegah malnutrisi. Diperlukan pangan sehat untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam menjalani kehidupan yang aktif dan sehat," katanya.

FAO menyebut laporan SOFI 2026 mencatat biaya pola makan sehat di Indonesia pada 2025 sekitar 5 dolar AS (sekitar Rp89 ribu) per orang per hari berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP).

Keterjangkauan pangan bergizi masih menjadi tantangan sehingga FAO menyerukan penguatan produksi, distribusi, infrastruktur, dan teknologi untuk memperluas akses masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.