FAO juga menyoroti pemberdayaan petani perempuan melalui perluasan akses pembiayaan, teknologi, informasi, infrastruktur, dan pasar.
PBB menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan untuk memperkuat dukungan kebijakan serta investasi bagi perempuan di sektor pangan dan pertanian.
Rajendra menilai inovasi yang terbukti efektif harus tersedia, terjangkau, dan dapat diterapkan petani kecil, termasuk perempuan, agar manfaat penguatan sistem pangan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor, FAO berharap penurunan kelaparan berlanjut, disertai perbaikan gizi dan kesejahteraan petani.
Sementara itu, pemerintah memperluas pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut laporan Kementerian Keuangan, hingga 30 September 2026 program tersebut menjangkau sekitar 57 juta penerima manfaat melalui 27.486 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan realisasi anggaran mencapai Rp153,2 triliun.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat bantuan pangan beras periode Juli–September 2026 telah tersalurkan 967.500 ton atau sekitar 97 persen dari alokasi. Pemerintah juga melanjutkan bantuan pangan untuk periode Oktober–Desember 2026.
Perum Bulog mencatat pengadaan gabah dan beras dalam negeri hingga 8 Oktober 2026 mencapai 4,12 juta ton setara beras atau 102,88 persen dari target 4 juta ton, untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan ketersediaan pangan nasional.