"Pertimbangannya saat itu, karena saya ingin fokus dulu mengejar pendidikan. Jadi saya vakum dari tahun 2019 hingga tahun 2025," ucap Faris.

Selama 6 tahun 'tilem' dari dunia film, Faris mengaku banyak menemukan pengalaman baru dalam kehidupan pendidikannya. Salah satunya merasakan overthinking karena perubahan karakter dari ekstrovert saat kecil menjadi introvert di masa remaja.

"Kalau pas kecil, pede saja. Tapi ketika masuk SMA, jadi malu. Malu kalau berbicara dengan orang, malu ketika berperan. Sampai ada saatnya ketika saya bilang ke ibu, bahwa fesyen saya bukan di sini (film) deh," ungkap Faris.

"Tapi saat itu ada satu kata-kata yang menguatkan saya, kira-kira begini; Coba dulu saja. Kalau sudah dicoba, berhasil atau tidak itu bonus. Akhirnya saya berani," kata Faris menambahkan.

Namun singkat cerita, Faris kemudian bisa melawan dirinya sendiri. Faris keluar dari ketakutannya selama ini, dan mantap menatap dunia seni peran sebagai jalan hidupnya.

"Dulu sering overthinking, memikirkan respons orang. Tapi akhirnya bisa mengatasi. Itu juga berkat lingkungan yang selalu mendukung saya," kata lelaki lulusan SMAN 6 Garut tersebut.

Selain melawan dirinya sendiri, Faris juga dihadapkan dengan tantangan lain di dunianya ini. Yakni nama besar sang ayah yang ada di pundaknya. Faris mengaku awalnya sempat terbebani dengan hal itu.

"Awalnya iya. Rasanya berat memikul nama besar Abah. Tapi akhirnya luntur karena sering dinasihati. Alhamdulillahnya banyak yang support saya," kata Faris.