Fasilitas tersebut memungkinkan ikan yang baru didaratkan segera mendapatkan penanganan agar kualitasnya tetap terjaga. Sementara hasil tangkapan yang belum langsung dipasarkan dapat disimpan sebelum didistribusikan.
Suarjana yang juga menjabat Ketua Koperasi Desa Merah Putih Seraya Timur menjelaskan ikan tongkol menjadi komoditas tangkapan paling dominan nelayan Seraya Timur. Selain itu, terdapat sejumlah jenis ikan lainnya, termasuk ikan dasar berukuran besar yang ditangkap oleh nelayan khusus.
Dari sisi pemasaran, hasil tangkapan nelayan kini dapat didistribusikan ke sejumlah wilayah di Bali, seperti Klungkung, Denpasar, Badung, Tabanan, dan Buleleng. Bahkan, ketika pasokan pasar di Bali sudah terpenuhi, hasil tangkapan pernah dikirim hingga Banyuwangi.
Ia menilai, fasilitas KNMP memberikan dampak terhadap peningkatan nilai ekonomi hasil tangkapan. Sebelumnya, ikan yang tidak terserap pasar terkadang harus dijemur atau diolah menjadi produk lain karena keterbatasan penanganan dan distribusi.
"Jadi yang semulanya, saat ada panen itu tidak bisa dijual, mereka jemur atau dibuat apa, sekarang sudah menjadi pendapatan nilai rupiah," katanya.
Meski demikian, pengelolaan hasil tangkapan masih menghadapi kendala keterbatasan kapasitas penyimpanan. Menurut Suarjana, kapasitas Air Blast Freezer (ABF) yang tersedia sekitar satu ton, sehingga belum mampu menampung seluruh hasil tangkapan ketika musim panen berlangsung bersamaan.
Dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas, hasil tangkapan harus segera didistribusikan agar kualitas ikan tidak mengalami penurunan.
Padahal, ketika hasil tangkapan melimpah, penanganan membutuhkan ruang penyimpanan yang memadai.