NADIKABAR.COM — Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) Jakarta membentuk Fasta Rescue di Universitas Negeri Jakarta, Minggu, untuk memperkuat kapasitas relawan dalam mitigasi dan penanganan bencana.
Sekretaris Umum Fasta, Prasenja mengatakan pembentukan Fasta Rescue salah satunya dilatarbelakangi peristiwa hilangnya lima jurnalis saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Salah satu jurnalis merupakan alumnus Trisaptapala SMAN 37 Jakarta yang menjadi bagian dari keluarga besar Fasta.
"Peristiwa itu menjadi refleksi bagi kami bahwa pengalaman di alam terbuka harus diperkuat dengan kapasitas kebencanaan yang lebih baik," kata Prasenja.
Menurutnya, ancaman bencana juga terdapat di Jakarta dan sekitarnya, termasuk gempa bumi dan banjir. Oleh karena itu, jejaring siswa pecinta alam (Sispala) dan alumninya berpotensi menjadi sumber daya untuk membantu masyarakat dalam situasi darurat.
Ketua Fasta Rescue , Rio Susanto mengatakan pembentukan tim tersebut akan disertai pendidikan dan pelatihan untuk membekali anggota dengan pengetahuan, keterampilan, serta pemahaman prosedur penanganan bencana.
Ia berharap Fasta Rescue dapat berkembang menjadi tim terlatih yang mampu berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam kegiatan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Dalam acara tersebut, peserta juga diberi pembekalan dasar dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas Jakarta I, serta praktisi dan relawan kebencanaan.
Sementara itu, salah satu peserta dari Sispala Jakarta Najwa Defianti mengatakan pelatihan tersebut memberinya pengetahuan baru mengenai penanganan bencana dan pentingnya meningkatkan kompetensi relawan.
Melalui Fasta Rescue , Fasta berharap pengalaman anggota Sispala dalam navigasi, pendakian, pertolongan pertama, dan kerja tim dapat dikembangkan untuk mendukung mitigasi serta kesiapsiagaan bencana.