"Saya bertekad untuk tetap bertani karena itulah mata pencaharian yang kami kenal sejak kecil," ujar petani yang juga ayah enam anak itu.
Di Gaza selatan, musim jambu biji, yang biasanya berlangsung dari September hingga Desember, menunjukkan situasi serupa.
Lahan milik Hani Al-Qudra di Khan Younis telah menyusut dari sekitar 1.350 dunam (135 hektare) sebelum perang menjadi sekitar 200 dunam (20 hektare), dan jumlah pekerjanya berkurang dari sekitar 100 orang menjadi 15 orang.
"Jambu biji merupakan salah satu tanaman terpenting di Jalur Gaza, baik penduduk maupun petani bergantung pada tanaman ini untuk kebutuhan pangan dan peluang kerja," kata Al-Qudra.
Konsumen pun turut merasakan dampaknya. Di sebuah pasar di Khan Yunis, Ahmed Al-Najjar, seorang ayah tiga anak berusia 45 tahun, mengatakan jambu biji, yang dahulu merupakan buah musiman dengan harga terjangkau, kini tak lagi terjangkau bagi banyak keluarga.
"Saya sedih ketika anak-anak saya memintanya, dan saya tidak mampu membelinya," kata Al-Najjar.
Para pakar menggambarkan situasi yang suram. Spesialis pertanian Mohammed Abu Shamala mengatakan luas lahan budi daya jambu biji di Gaza telah menyusut dari sekitar 1.700 dunam (170 hektare) sebelum perang menjadi kurang dari 100 dunam (10 hektare).