Sementara itu, kerusakan lahan pertanian dan sistem irigasi, serta meningkatnya kadar garam air telah menurunkan kualitas hasil panen dan membatasi budi daya beberapa varietas.

Sebuah penilaian oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang dirilis pada Agustus menemukan hanya sekitar 448 hektare, atau kira-kira 3 persen, dari lahan pertanian di Gaza yang kondisinya tetap dapat diakses dan tidak rusak.

Otoritas pertanian Gaza yang dikelola Hamas memperkirakan kerugian di sektor pertanian mencapai sekitar 3,49 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.753).

Sebelum perang, sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen dari perekonomian Gaza dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 560.000 orang.

Kini, bagi para petani seperti Al-Dahdouh, Abu Samhadana, dan Al-Qudra, upaya gigih untuk terus membudidayakan kentang, sayuran, dan jambu biji telah menjadi perjuangan untuk terus mempertahankan mata pencaharian mereka sekaligus menjaga sisa-sisa sektor pertanian Gaza.

Saat gempuran mereda, Al-Dahdouh kembali ke lahan seluas tujuh dunam (0,7 hektare) miliknya, merawat tanaman kentang serta bersiap menanam tomat untuk musim mendatang.

"Saya akan tetap berjuang untuk bertani dan mencari penghasilan demi anak-anak saya," ujar Al-Dahdouh.