Dari 17 studi yang meriset sungai besar dan sungai kecil, 15 di antaranya mengungkap hal yang sama. Tujuh dari studi tersebut melaporkan kadar arsenik sebelum dan sesudah kebakaran. Salah satu studi mencatat adanya peningkatan rata-rata arsenik sebesar 17% dan sisanya melaporkan lonjakan kadar arsenik tertinggi, mulai dari 300-34.900 persen.
Kebakaran menghanguskan tanaman yang bisa menahan air dan menstabilkan lereng. Sayangnya, tanah yang terbakar itu juga menyerap air lebih sedikit, sehingga air hujan yang mengalir deras dapat membawa abu dan lapisan tanah ke aliran sungai terdekat. Dari sinilah arsenik bisa terbawa hingga aliran sungai.
Dari 17 studi, terdapat dua studi yang mengukur kadar arsenik yang masih tinggi, pada 5 dan 10 tahun setelah kebakaran berakhir. Pada studi 10 tahun setelah kebakaran tersebut, air yang diteliti merupakan air minum yang telah diolah.
Dikutip dari Earth, jalur kedua adalah abu dan asap yang mendarat di perairan terbuka, sehingga zat tersebut langsung menyebar. Satu sampel yang diambil pada saat hari berkabut asap menunjukkan, ada 2.000% arsenik lebih tinggi dari yang tercatat, dibandingkan saat tidak ada asap di sekitar.
Salah satu contoh fenomenanya adalah saat kebakaran besar di California pada 2018 silam. Berdasarkan studi, zat arsenik yang terbawa oleh partikel asap halus mencapai alat pemantau udara di dekat Modesto yang berjarak 124 kilometer dari tempat kebakaran. Asap merupakan jalur yang relatif singkat dibandingkan dengan lereng bukit yang gundul.