"Kekayaan budaya adalah aset ekonomi. Seni dan adat istiadat yang dikelola dan dikembangkan dengan baik akan menghasilkan kesejahteraan," ujar Mahendra.

Festival yang merupakan kolaborasi dengan Forum Komunikasi Penghubung Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (FORKAPPSI) berlangsung semarak dan disambut antusias masyarakat. Pengunjung dari berbagai kalangan memadati area TMII untuk menyaksikan ragam busana, musik, dan tarian Nusantara yang jarang dapat dinikmati dalam satu waktu dan satu tempat.

Rangkaian acara diawali pawai budaya yang diikuti kontingen 38 provinsi. Setiap kontingen mengenakan busana daerah masing-masing, membentuk barisan panjang yang memperlihatkan wajah keberagaman Indonesia.

Pawai diiringi musik tanjidor, dan ondel-ondel, ikon budaya Betawi yang menegaskan peran Jakarta sebagai tuan rumah. Usai pawai dan prosesi pembukaan, panggung menampilkan tarian daerah dari 38 provinsi secara bergantian, masing-masing dengan busana yang unik dan gerak tari yang khas.

ICE berharap Festival Negeri Kami dapat tumbuh menjadi agenda budaya berkelanjutan yang memperkuat kebanggaan publik terhadap kekayaan budaya Indonesia.

Menurut Ketua Pelaksana FNK, Rifai Akif, mengumpulkan 38 provinsi dalam satu panggung bukanlah hal yang mudah, terlebih ada beberapa pemekaran provinsi yang usia muda seperti di Papua yang menjadi enam provinsi.

β€œTapi hari ini, impian itu terwujud, perwakilan 38 provinsi berkumpul untuk berparade dan menampilkan keseniannya di panggung FNK,” katanya.