NADIKABAR.COM — Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2026 memasuki hari pertama pelaksanaan di InterContinental Bandung. Forum ini mengangkat tema 'Securing Energy Supply Across Production Facilities and Infrastructure'

Kegiatan ini diselenggarakan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) bekerja sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan industri minyak dan gas bumi (migas) untuk membahas penguatan ketahanan energi melalui fasilitas produksi dan infrastruktur pendukung.

Ketua FFPM 2026 Irfan Eka Wardhana mengatakan dinamika industri migas membutuhkan keterhubungan yang lebih erat tim redaksi sektor hulu dan hilir. Menurutnya, FFPM 2026 menjadi wadah bagi berbagai pihak untuk membahas solusi teknis yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.

"Dinamika industri migas saat ini menuntut kita untuk memecah sekat-sekat operasional. FFPM 2026 secara khusus dirancang untuk menjembatani sinergi hulu dan hilir guna memastikan ketahanan energi nasional," ujar Irfan dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Irfan menambahkan pembahasan dalam forum turut mencakup keandalan fasilitas, efisiensi operasional, integrasi rantai pasok, pengelolaan persediaan bersama, serta optimalisasi infrastruktur penyimpanan yang terintegrasi.

Sementara itu, Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro mengatakan FFPM telah menjadi wadah bagi praktisi industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan energi nasional sejak 2018 dengan dukungan SKK Migas.

Menurut Luky, industri migas menghadapi kebutuhan untuk memperbarui fasilitas yang telah menua agar tetap beroperasi secara aman dan efisien. Pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur baru diperlukan untuk membuka akses terhadap cadangan dalam skala besar dengan memperhatikan anggaran dan waktu pelaksanaan proyek.