Melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, pihaknya berkomitmen memperkuat kontribusi ilmu kedokteran bagi kesehatan masyarakat Indonesia serta mendorong upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan karhutla yang terpadu dan berkelanjutan.

Dalam keterangan yang sama, Dalam paparannya, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Nastiti Kaswandani memaparkan bahwa dampak paparan asap karhutla tidak berhenti pada gangguan pernapasan akut.

"Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif," katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa gangguan pertumbuhan paru di masa kecil dapat terbawa seumur hidup atau permanen. Studi pada kebakaran Indonesia tahun 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, serta meningkatnya risiko asma persisten dan PPOK.

Paparan sejak dalam kandungan juga berdampak pada pertumbuhan anak, dengan efek yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian, termasuk risiko stunting. Bukti lain menunjukkan potensi gangguan capaian kognitif, IQ lebih rendah, serta gangguan perilaku dan memori.