NADIKABAR.COM — Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari G20, Kamis (15/10), menyampaikan kekhawatiran mengenai meningkatnya tekanan inflasi global, seiring dengan gejolak berkepanjangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi.

Dalam pertemuan di Bangkok, mereka membahas upaya bank sentral untuk meredam inflasi melalui kenaikan suku bunga, serta menegaskan kembali pentingnya stabilitas di pasar mata uang.

"Jepang perlu memantau pasar valuta asing dengan cermat," kata Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kepada wartawan setelah menghadiri pertemuan G20 tersebut.

Jepang diwakili dalam pertemuan itu oleh Katayama dan Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang negaranya memegang presidensi G20, tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

G20 tidak mengeluarkan pernyataan bersama, yang mencerminkan sulitnya mencapai konsensus di antara para anggotanya di tengah ketegangan perdagangan dan geopolitik yang semakin mendalam.

Kelompok itu mencakup negara-negara ekonomi maju dan berkembang utama, seperti AS, China, Jepang, dan Rusia.

Pada pertemuan sebelumnya, yang berlangsung pada 31 Agustus dan 1 September di Asheville, North Carolina, para peserta gagal menyepakati pernyataan bersama setelah China keberatan terhadap rumusan kalimat mengenai perdagangan dan isu-isu lainnya.

Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa, Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa ekonomi global diperkirakan tumbuh 3,1 persen pada 2026, naik 0,1 poin persentase dari prakiraan Juli.

IMF juga memperingatkan bahwa inflasi dapat membebani aktivitas ekonomi.

Kenaikan harga telah mendorong naiknya suku bunga jangka panjang di banyak negara, sehingga menambah beban pada keuangan publik.

"Sekaranglah, saatnya untuk meningkatkan pendapatan guna merasionalisasi pengeluaran dan memperbaiki pengelolaan keuangan publik," kata Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dalam sebuah konferensi pers pada Rabu.

Para pimpinan keuangan dan bank sentral dari G7 juga bertemu pada Kamis untuk membahas kenaikan suku bunga di negara-negara ekonomi utama, ketidakseimbangan perdagangan global, serta langkah merespons perkembangan kecerdasan buatan yang berlangsung sangat cepat.

Katayama menyatakan bahwa tekanan kenaikan suku bunga tidak akan mereda kecuali negara-negara menetapkan target yang jelas untuk keberlanjutan fiskal, menciptakan ruang fiskal, dan berinvestasi di sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan.

G7 juga membahas kelebihan produksi baja dan barang-barang lain oleh China, serta ekspor produk berharga murah dalam skala besar yang telah merugikan para produsen di negara-negara lain.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia