NADIKABAR.COM — Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan negara G20 sepakat menolak penggunaan komoditas pangan sebagai alat tekanan geopolitik. Sikap tersebut menjadi hasil Pertemuan Menteri Perdagangan G20 (G20 Trade Ministers' Meeting/TMM) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (AS), beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Busan mengatakan, pangan berkaitan erat dengan kelangsungan hidup. Karenanya, upaya penekanan melalui pangan tidak dapat dibenarkan

"Para Menteri Perdagangan G20 menolak upaya menjadikan pangan sebagai instrumen tekanan geopolitik. Pangan berhubungan dengan kelangsungan hidup dan upaya penekanan melalui pangan tidak dapat dibenarkan," ujar Busan dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari laman resmi Kemendag, Minggu (4/10/2026).

Selain itu, Busan juga ikut terlibat dalam pembahasan kelebihan kapasitas, kerja paksa, dan tarif Most Favored Nation Organisasi Perdagangan Dunia (MFN WTO). Seluruh negara G20 menyatakan isu-isu tersebut perlu diselesaikan dengan kolaborasi dan aksi bersama.

Busan menilai penilaian terhadap excess capacity perlu melihat dinamika penawaran dan permintaan, tingkat utilisasi kapasitas, perilaku pasar, serta faktor yang memengaruhi produksi. Menurutnya, tingginya kapasitas berlebih, lonjakan ekspor, atau ketidakseimbangan perdagangan tidak otomatis menunjukkan adanya excess capacity yang bersifat struktural.