Dalam siaran televisi langsung, jurnalis sayap kanan Yinon Magal—salah satu pendukung Netanyahu yang paling vokal—mengklaim bahwa Eisenkot dikendalikan oleh kalangan Ashkenazi elitis dan menyebutnya sebagai "monyet."

Netanyahu, yang berasal dari keturunan Eropa, mengecam pernyataan tersebut.

Daniel Ben-Simon, jurnalis Israel kelahiran Maroko yang telah meraih penghargaan dan pernah menjadi anggota parlemen, mengatakan kepada DW bahwa upaya Eisenkot untuk merangkul akar budayanya mungkin terpaksa ia lakukan akibat komentar Magal. Namun, upaya tersebut tetap memiliki nilai historis.

"Orang-orang tidak menggunakan istilah seperti 'Dialna' dengan bangga," kata Ben-Simon, merujuk pada penggunaan istilah Arab "milik kita sendiri" oleh Eisenkot dalam poster-poster kampanyenya. Ia mengatakan bahwa masyarakat Israel telah lama berusaha menghapus identitas Arab orang-orang Yahudi Afrika Utara.

Upaya Eisenkot untuk merangkul identitasnya merupakan cara untuk "keluar dari kerangka" yang ditetapkan oleh masyarakat. "Dengan menggunakan istilah seperti itu, Anda sedang menciptakan identitas baru: identitas Israel-Maroko," kata Ben-Simon. "Eisenkot adalah orang pertama yang memungkinkan identitas ganda ini diekspresikan, sekaligus tetap merasa menjadi bagian dari tempatnya sendiri."

Setelah Israel berdiri, partai sosialis yang berkuasa, Mapai, yang sebagian besar dipimpin oleh kalangan Ashkenazi, menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap kelompok Mizrahi. Orang-orang Mizrahi sering kali diharapkan untuk "menjadi seperti orang Eropa" alih-alih mempertahankan budaya, warisan, atau bahasa Arab mereka sendiri.

Ketimpangan ini juga terlihat dalam bentuk ketimpangan material. Pada dekade-dekade awal berdirinya negara tersebut, para imigran dari Eropa sering kali memperoleh perumahan dan pekerjaan yang lebih baik, sementara banyak orang Yahudi dari negara-negara berbahasa Arab dikirim ke Ma'abarot, yaitu kamp-kamp penampungan sementara, yang sering kali berada di daerah terpencil dengan infrastruktur yang minim.

Banyak dari kamp tersebut kemudian berkembang menjadi "kota-kota pembangunan" (development towns), yang tetap menerima pendanaan lebih sedikit dibandingkan wilayah-wilayah pusat Israel. Kondisi ini kemudian mengakibatkan kemiskinan. Sderot, yang terletak di wilayah selatan, merupakan salah satu kota pembangunan yang paling dikenal.