"Ini pelecehan, ini pelecehan," teriak ibu tersebut.

Ibu tersebut bernama Amanda Andono mengatakan acara tersebut digelar pada hari Sabtu (3/10) pagi hingga tengah malam. Keturunan salah satu keluarga di sana menggelar acara untuk reuni.

"Mereka bikin acara kombo itu ya untuk reuni akbar keluarga besar dihadiri oleh semua kerabat juga keturunan mereka, dari pagi sampai tengah malam itu," kata Amanda dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).

Amanda menilai tindakan yang dilakukan keluarga tersebut arogan. Sebab, dia menilai mereka masih merasa memiliki tanah yang menjadi lokasi acara.

Salah satu warga yang terganggu menurutnya sempat dibentak karena mendatangi lokasi acara dan melayangkan protes. Dia mengatakan beberapa kali mediasi sempat diupayakan oleh pihak-pihak yang terlibat.

"Kemarin ada akhirnya dua kali mediasi, pertama siang yang diprakarsai Pak RW tapi pihak penyelenggara dan yang punya acara nggak hadir sama sekali, hanya perwakilan," sebutnya.

"Lalu malam jam 20.00 WIB di kelurahan diprakarsai oleh Bu Lurah-yang juga udah aku DM dan terangkan panjang lebar-dihadiri juga oleh pihak penyelenggara bersama yang bikin acara," tambahnya.

Dalam rekaman video, Amanda yang memakai daster polkadot terlihat memprotes acara tersebut karena petasan yang dinyalakan tengah malam. Ia menyebutkan anaknya yang berkebutuhan khusus sampai terbangun dan tremor saking kerasnya suara petasan.

Di tengah protes yang ia layangkan, seorang pria datang terkesan menantangnya. Dalam video tersebut Amanda juga menyebut dirinya hendak ditampar oleh salah satu peserta acara.

Kelurahan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel), melakukan mediasi terkait warga yang mengeluhkan petasan hingga dini hari saat haul keluarga dan Maulid Nabi. Pihak kelurahan menyampaikan bahwa panitia acara haul dan Maulid Nabi tidak mengantongi izin.