Dia menyoroti bahwa dalam situasi krisis atau bencana, empati tidak selalu membutuhkan nasihat atau ajakan untuk langsung berpikiran positif. Ungkapan yang diniatkan untuk perawatan diri (self-care) dapat diterima secara menyakitkan jika disebarkan tanpa kepekaan terhadap kondisi psikologis masyarakat yang sedang berduka.

Meluruskan simpang siur mengenai konsep mindfulness, Lahargo menekankan bahwa mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk atau memalingkan wajah dari bencana. Sebaliknya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari realitas yang terjadi secara jernih agar seseorang mampu mengelola emosinya dan merespons dengan tindakan yang bermanfaat.

"Jadi mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk, penderitaan, atau bencana. Justru kita mengakui realitas tersebut sambil menjaga agar emosi kita tidak sampai mengambil alih seluruh kemampuan untuk berpikir dan bertindak," jelasnya.