Pengurangan waktu tempuh terbesar terjadi pada KA Kahuripan relasi Blitar–Kiaracondong, yakni 92 menit. Selanjutnya, KA Pasundan relasi Surabaya Gubeng–Kiaracondong menjadi lebih cepat 53 menit, KA Airlangga relasi Surabaya Pasarturi–Pasar Senen lebih cepat 52 menit, dan KA Batavia relasi Solo Balapan–Gambir lebih cepat 51 menit.
KA Airlangga relasi Pasar Senen–Surabaya Pasarturi juga mengalami pengurangan waktu tempuh 51 menit. Sementara itu, KA Sangkuriang arah Ketapang–Bandung menjadi lebih cepat 46 menit.
Menurut Anne, perubahan waktu tempuh disusun dengan mempertimbangkan karakteristik lintas, kesiapan prasarana dan sarana, serta pengaturan perjalanan dan pola pemberhentian.
“Penataan GAPEKA dilakukan secara menyeluruh. Ada perjalanan yang menjadi lebih cepat, ada yang waktu tempuhnya tetap, dan ada pula yang memerlukan penyesuaian karena tambahan pemberhentian. Setiap perubahan disusun agar pelanggan memperoleh pilihan perjalanan yang jelas dan sesuai kebutuhan,” jelas Anne.
Anne menambahkan, pengembangan GAPEKA 2026 juga sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat. Sepanjang Januari–Oktober 2026, KAI Group telah melayani 442.529.105 pelanggan, meningkat 6,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 414.116.947 pelanggan.
Pada layanan KA jarak jauh dan lokal KAI, jumlah pelanggan mencapai 49.932.766, meningkat 8,99 persen dibandingkan 45.814.275 pelanggan pada Januari–Oktober 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kapasitas dan layanan kereta api untuk jangka panjang.
“Melalui GAPEKA 2026, KAI ingin menghadirkan layanan kereta api yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kapasitas bertambah, pilihan keberangkatan semakin beragam, dan lebih banyak stasiun dapat menjadi akses perjalanan. Kami berharap pengembangan ini memberikan manfaat bagi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah,” tutup Anne.