"Kekhawatiran saya saat ini adalah, pertama-tama, terhadap salah satu rekan saya," kata Albanese.

Albanese menyebut Helen Haines sebagai sosok yang memiliki integritas.

"Dia adalah seseorang yang sangat bersemangat dalam memperjuangkan komunitasnya. Dia adalah seseorang yang tidak segan-segan bersuara mengenai apa yang menurutnya dibutuhkan oleh komunitas tersebut," ujarnya.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese (Getty Images)

Albanese berkata, "Saya tidak ingin melihat sistem politik di mana kita tidak bisa berbincang dengan orang-orang di swalayan, di jalanan, dalam pertemuan warga, atau di forum publik."

"Itulah bagian penting dari demokrasi kita (Australia)."

Menurut Albanese, perpolitikan Australia belakangan semakin tegang walau dia tidak secara spesifik mengaitkan peristiwa yang dialami Helen dengan ketegangan tersebut.

"Saya rasa ketegangan telah meningkat. Dan terlalu banyak protes, tapi tidak ada cukup diskusi. Tidak cukup percakapan yang sopan dan perbedaan pendapat," ujarnya.

"Dalam demokrasi, kita seharusnya bisa melakukan diskusi, debat politik, menyampaikan pandangan yang berbeda, tetapi melakukannya dengan cara yang saling menghormati," kata Albanese.

Pemimpin oposisi pemerintah Australia, Angus Taylor, mengatakan bahwa dia sangat sedih dan terkejut atas peristiwa yang dialami Helen.

"Saya mendoakan Helen dan memikirkan keluarganya serta orang-orang yang dicintainya. Ini adalah hari yang mengejutkan bagi bangsa kita. Tak seorang pun seharusnya menjadi sasaran serangan seperti ini," ujarnya.

"Warga Australia pasti akan marah dan merasa ngeri atas serangan terhadap Helen di luar kantor daerah pemilihannya di Wangaratta.

"Negara kita tidak boleh menjadi tempat di mana serangan kekerasan dianggap sebagai hal yang biasa," kata Taylor.

Personel kepolisian Australia dipotret di titik insiden yang melukai Helen Haines di Kota Wangaratta, Senin (19/10) (Reuters)