"Terus lanjut lagi ujungnya sampai mana? Kita susuri lagi membelah Jalan Raya Menganti. Lanjut daerah mana? Kita sampai daerah mana? Lanjut lagi sampai ke wilayah Royal Residence Cluster Organica ya. Lanjut lagi ini di bawah Royal Residence Cluster kita lanjut lagi ke Waduk Tuk. Lanjut lagi ini aktif sampai Ujungnya sampai di wilayah Hutan Kota Sumur Welut," sebutnya.
Pakar Geologi ITS Prof Dr Ir Amien Widodo MSi mengimbau agar masyarakat tak mudah percaya dengan informasi-informasi yang beredar, terutama yang tanpa dibarengi dengan data resmi dan valid.
"Kalau orangnya baik kan menampilkan petanya, jadi dia kan sepertinya gambar sendiri, seperti itu. Mestinya ada peta publikasi dari Kementerian ESDM tadi. Gambarnya seperti ini, sehingga orang bisa melihat," kata Amien.
"Berarti kan dia enggak fair, enggak menampilkan data aslinya. Jadi, ya enggak fair tadi. Jadi, "Ini bener apa enggak?" kita mencari di ESDM, di Badan Geologi juga enggak nemu," sambung Amien.
Menurut Amien, jalur sesar aktif yang terdata sejauh ini hanya Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Belum ada peta resmi yang menunjukkan keberadaan sesar aktif baru yang mengarah ke Madura.
"Tapi kan enggak ada yang mengarah ke Madura gitu kan enggak ada. Biasanya itu Sesar Surabaya sama Sesar Waru itu," ujarnya.
"Yang ada ya, ya itu. Yang lewat Surabaya biasanya itu dua itu, Sesar Surabaya sama Sesar Waru," tambahnya.
Amien menambahkan, ketidakjelasan informasi tersebut makin terlihat saat pengunggah konten justru melampirkan peta daerah lain yang tidak relevan, seperti wilayah Malang, ketimbang memberikan bukti peta resmi Surabaya-Madura.