Menurut Darodji, perayaan Maulid Nabi dengan penampilan ala satanis tidak pernah diajarkan. Ia mencontohkan, semestinya Maulid Nabi diperingati dengan hal-hal yang baik seperti ceramah dan membaca selawat.
"Tidak pernah ya diajarkan kepada kita mengenai kelahiran seorang siapapun apalagi Nabi. Nabi contoh yang terbaik, diperingati dengan cara yang tidak wajar dan tidak pantas itu tidak benar gitu," urai Darodji.
"Umat di Indonesia ini memperingati Rasulullah itu dengan ceramah, dengan membaca selawat beliau, dan dijelaskan perilaku Rasulullah itu begini dan contohnya menjadi contoh kehidupan kita semuanya. Harusnya itu yang dilakukan," tuturnya.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis. Cholil menyebut kegiatan itu bertentangan dengan semangat Maulid Nabi.
"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW," kata Cholil seperti dilansir dari laman resmi MUI, Senin (14/9).
Cholil mengatakan, memperingati Maulid Nabi seharusnya dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah. Seperti halnya membaca selawat dan Al-Qur'an.
"Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," tegasnya.
Dia menilai esensi spiritual Maulid Nabi hilang jika dirayakan dengan konsep karnaval satanik dan menyimpang. Menurutnya, karnaval tersebut mendistorsi peneladanan terhadap Rasulullah.