Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, ia menilai kemampuan membedakan fakta, opini, dan disinformasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab politik.
Dalam konteks itu, Nikson mengutip pemikiran yang luas dikenal sebagai ungkapan dramawan dan penyair Jerman, Bertolt Brecht, tentang bahaya buta politik.
The worst illiterate is the political illiterate, demikian bunyi bagian awal kutipan yang kerap dikaitkan dengan Brecht. Artinya, "Orang yang paling buta huruf adalah orang yang buta politik."
"Maknanya melampaui persoalan pengetahuan tentang partai atau pemilihan umum. Buta politik adalah keadaan ketika seseorang tidak memahami hubungan antara keputusan publik dan kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Menurutnya, harga pangan, biaya pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja hingga perlindungan lingkungan tidak berdiri sendiri, semuanya berkaitan dengan kebijakan dan keputusan politik.
Dengan demikian, lanjut dia, melek politik bukan berarti harus selalu membela partai atau pemerintah tertentu. Literasi politik justru menuntut kemampuan memahami kebijakan, menilai dampaknya, memeriksa informasi, menyampaikan kritik secara bertanggung jawab serta berpartisipasi dalam kehidupan demokratis.