NADIKABAR.COM — Presiden China Xi Jinping memerintahkan penanganan secara maksimal di wilayah Tibet, menyusul gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7 yang menewaskan sedikitnya 16 orang. Gempa kuat itu melukai puluhan orang lainnya dan meratakan ratusan rumah dengan tanah.

Data Survei Geologi Amerika Serikat (AS) atau USGS menyebutkan bahwa gempa bumi yang mengguncang pada Kamis (22/10) malam, sekitar pukul 22.33 waktu setempat itu, berpusat di area pegunungan yang berjarak sekitar 190 kilometer di sebelah timur Nagqu dan 390 kilometer di sebelah timur laut Lhasa, ibu kota Tibet.

Pusat gempa tercatat di kedalaman dangkal, yakni sekitar 10 kilometer.

Xi dalam pernyataannya, seperti dikutip Xinhua dan dilansir AFP, Jumat (23/10/2026), mengatakan bahwa gempa bumi itu menimbulkan "korban jiwa yang cukup banyak" dan terjadi di "lokasi dengan ketinggian yang tinggi" dalam kondisi cuaca dingin.

"Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dan melakukan segala upaya untuk merawat mereka yang luka-luka, demi meminimalkan jumlah korban," kata Presiden China tersebut.

Xi juga menyerukan bantuan untuk warga dan peralatan penyelamat dikirimkan ke area terdampak segera.

Rekaman video memperlihatkan tim penyelamat membawa obor dalam kegelapan, dengan laporan kantor berita Xinhua, menyebutkan bahwa lebih dari 300 rumah ambruk akibat gempa.

Laporan media pemerintah China CCTV menyebut sebanyak 65 orang mengalami luka-luka. Tayangan CCTV memperlihatkan para petugas tanggap darurat menggotong seseorang, sembari menyorotkan senter ke arah bangunan yang rusak, yang beberapa di antaranya atapnya sudah runtuh.

Sebagian besar wilayah Tibet tertutup bagi jurnalis asing, dan otoritas China menjadi satu-satunya sumber informasi resmi.

Warga Tibet Takut Kembali ke Rumah Usai Diguncang Gempa

Salah satu warga Tibet, yang tidak disebut namanya, menuturkan kepada media setempat bahwa keluarganya hendak tidur ketika rumah mereka tiba-tiba berguncang hingga barang-barang berjatuhan.

"Kami bergegas keluar rumah tanpa sempat berpakaian," ucapnya. "Kaki saya gemetar sepanjang perjalanan menuruni tangga, dan begitu sampai ke bawah, saya merasa sangat ketakutan hingga menangis," kata warga Tibet tersebut.

Menurut warga Tibet tersebut, warga setempat "takut untuk kembali ke rumah mereka" dan terpaksa "mendirikan tenda di sepanjang tepi jalan atau menghabiskan malam di dalam mobil".

Seorang warga Tibet lainnya, yang juga tidak disebut namanya, mengatakan kepada Beijing News bahwa gempa yang "sangat kuat" itu membuat rumahnya "berderit dan bergetar hebat".

"Saya sedang tidur saat gempa terjadi. Sekarang semua orang sudah lari keluar dan terlalu takut untuk kembali masuk. Saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju area terbuka untuk tidur di dalam mobil," ucapnya.