NADIKABAR.COM — Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, mengalokasikan 59,23% anggaran belanja daerah untuk menggenjot pembenahan infrastruktur pariwisata. Kebijakan itu diambil untuk membenahi fasilitas publik sekaligus merespons keluhan wisatawan yang berkunjung ke Badung.
"Biaya yang kami lontarkan untuk infrastruktur sekitar 59,23% dari total belanja. Angka ini menunjukkan perubahan signifikan untuk menjawab pertanyaan dan keluhan para wisatawan," kata Adi Arnawa seusai Sidang Paripurna DPRD Badung, Sabtu (12/9/2026).
Langkah itu ditopang oleh proyeksi pendapatan daerah pada perubahan anggaran yang dinaikkan sebesar 1,65% menjadi Rp 10,504 triliun. Kendati pendapatan transfer turun 1,84% menjadi Rp 787,981 miliar, lonjakan duit Pemkab Badung didorong dari peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 181,913 miliar menjadi Rp 9,731 triliun.
"Sekarang mulai kami lakukan penataan kawasan dengan penataan pedestrian dan kabel-kabel utilitas juga mulai diturunkan di Kuta. Langkah ini untuk membangun citra pariwisata agar Kuta yang menjadi ikon kita bisa bangkit kembali," ujar Adi Arnawa.
Adi Arnawa menegaskan keberhasilan penataan kawasan pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan anggaran daerah semata. Partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dan desa adat sangat diperlukan dalam menjaga serta mengawal proses pembenahan lingkungan tersebut.
"Semua ini tidak akan cukup hanya dengan porsi anggaran dan komitmen kami tanpa dukungan seluruh pemangku kepentingan. Jika sinergitas berbasis kolaborasi dengan masyarakat Kuta dan desa adat sudah berjalan, saya optimis pembenahan ini tercapai," kata Adi Arnawa.
Selain penataan di kawasan pariwisata Kuta, alokasi anggaran infrastruktur tersebut juga diperuntukkan bagi pembangunan jalan penunjang di seluruh wilayah Badung. Peningkatan fasilitas jalan ini diharapkan dapat memperlancar aksesibilitas serta menunjang pemerataan ekonomi antarwilayah.
"Kami berharap penataan jaringan jalan dilakukan bertahap untuk mendukung konektivitas antarwilayah. Pendapatan asli daerah juga diproyeksikan naik dari Rp 9,5 triliun menjadi Rp 9,7 triliun lebih," ujar Adi Arnawa.
Adi Arnawa meminta seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bergerak cepat mengejar realisasi anggaran fisik yang tergolong masih rendah pada paruh pertama tahun ini. Proyek-proyek fisik di lapangan harus segera dirampungkan sebelum terkendala perubahan cuaca.
"Realisasi fisik yang baru 30% di semester pertama ini harus segera disikapi dan digenjot. Memasuki musim hujan nanti tentu bisa menjadi kendala capaian fisik di lapangan," kata Adi Arnawa.