"Setelah pandemi itu baru mulai ramai. (Dalam sehari) kalau hari biasa itu 100-150 pengunjung bisa, kalau weekend pasti bisa sampai 500 lebih," kata Agung kepada NadiKabar.
Agung mengungkapkan mulanya pemuda desa dibantu tokoh setempat hanya berniat membuat Kali Odo lebih bagus dan terawat. Namun seiring berjalannya waktu, tempat ini justru ramai wisatawan dan menjadi jalan rezeki bagi warga setempat.
"Kita sebenarnya cuman kayak enggak terlalu niat bikin wisata, cuman kita niatnya membuat tempat yang bagus gitu, sukur-sukur bisa banyak orang yang ke sini," ucap Agung.
"Tapi kan di balik itu desa-desa lain mereka sudah punya wisata sendiri. Jadi kayak kita ya temu lah, temu tempat terus kita rawat gitu. Jadi kita kembangin aja. Alhamdulillahnya bisa menjadi ladang rezeki buat warga desa, buat orang-orang di sini, ya membantu perekonomian warga," tambahnya.
Agung menuturkan Wisata Kali Odo buka pada pukul 07.00 - 18.00 WIB. Kebanyakan pengunjung yang dari luar kota berasal dari Kota Semarang.
"Rata-rata (pengunjung dari) Kota Semarang. Yang jauh-jauh pernah saya tanya itu ada yang dari Bandung, Bogor. Mungkin mereka habis ada urusan kerjaan atau liburan keluarganya daerah sini, mereka mampir ke sini," ujar Agung.
Menurut Agung, daya tarik utama objek wisata air alami ini yaitu tidak bisa buka sepanjang tahun. Pasalnya saat musim penghujan, menurut Agung, sungai ini akan kering kerontang.
"Bukanya bulan kemarau. Biasanya mendekati bulan puasa itu airnya baru keluar. Nanti bertahannya itu kita 7 bulan itu sudah sangat bagus di sini, emang itu setiap tahun begitu. Jadi kita kayak prediksinya itu pasti keluar di mendekati bulan puasa kan pasti kemarau," ungkap Agung.
"Saat musim penghujan, bisa bisa nggak ada sama sekali airnya. Benar-benar kering dan mata air itu nggak mau sama sekali keluar. Adapun hujan itu kayak air cuman lewat," tambahnya.
Kedalaman kolam di Kali Odo juga bervariasi tim redaksi 30 - 170 sentimeter. Sehingga menurut Agung, tempat wisata ini juga ramah bagi anak-anak.