NADIKABAR.COM — Pos Pengamatan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mencatat getaran banjir lahar berlangsung selama enam jam menyusul hujan intensitas tinggi pada Senin.

"Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Agastya Rajendra dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.

Selain getaran banjir, aktivitas kegempaan selama enam jam terakhir terekam satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 115 detik, kemudan 14 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-25 mm dan lama gempa 31-153 detik.

"Pengamatan secara visual, Gunung Semeru tertutup kabut dan asap kawah tidak teramati, kemudian cuaca hujan, angin lemah ke arah barat dan barat laut, serta suhu udara sekitar 19-21 derajat Celcius," tuturnya.

Ia menjelaskan, Gunung Semeru berada pada status aktivitas vulkanik Level III (Siaga), sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi, yakni masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).

Di luar jarak tersebut, kata dia, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

"Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.

Masyarakat perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Informasi yang dihimpun di lapangan, hujan dengan intensitas tinggi selama enam jam di Gunung Semeru tersebut menyebabkan debit air di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) Semeru meningkat hingga membuat tanggul jebol di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.